rahainspire,,,

Greetings Pal! Welcome to my blog

Come and explore the power of ELI concept2009,
And see how we can motivate up your perception of the life.
" 'Cause, life is just about
how to see it"

Jan 27, 2009

Menu baru di pagi hari...

Tadi pagi, sekitar jam 6an gitu... saya bangun dan terhenyak (alah)...

Sebelum mandi, saya usahakan buat lebih dahulu makan. biar pas mandi udah ada tenaganya barang sedikit...

Singkat cerita saya ubek-ubek koreh-koreh isi dapur dan nggak ada yang saya dapat --sebenernya ada, ikan ayam dll...-- tapi berhubung pengen jadi gak mau jadi pescovegetarian, saya tetep bersikeras buat nyari telor. Buat dibikin jadi orak-arik telur yang basah dengan minyak dan asin seperti yang saya idamkan...Biar sederhana tapi sehat toh?
Gak lama si mamah bangun, dan ngasi tau posisi telur tepatnya ada dimana... --syukurnya--
dan saya pun bergegas (alah) nyiapin wajan yang masih berisi minyak. Saya sisihkan sedikit minyak ke tempat nya biar telor yang jadi nanti gak terlalu basah... dan

Prek prek, pluk....

cess.....

Belum sempat telor itu bagus bentuknya, saya langsung memutilasi telor yang hmmm, wangi itu. Hingga telor itu terkoyak-koyak sehingga buruk rupanya.
Tambah garam, lalu bumbu atom --sejenis masako tapi yang ini tradisional produksi Tasik--, 

srakk srakk..

lalu tambah garam lagi dan tambah bumbu atom lagi... (Seolah percaya bahwa saya gak akan kena penyakit tekanan darah tinggi pas umur 40 an) saya secara kontinu menambahkan bumbu atom... 

srakk srakk..

lalu saya coba, dan.... grr.... asin.

Setelah jadi, saya matikan api kompor dan entah kanapa saya mencium bau manis, --kebetulan kemaren si mamah bikin goreng nangka- jadi saya pikir makanan itu masih nyisa dan mau saya makan. Tapi walau saya cari-cari si benda yang bernama goreng nangka itu tak kunjung (alah) ditemukan...

Dengan disertai seditkit kekecewaan yang melanda di hati (alah) akhirnya saya mengurungkan inisisasi untuk nyari nangka goreng itu... Dan saya mengambil piring, menaruh seporsi nasi diatasnya lalu menaruh orak-arik telur yang mempesona itu. Tak lupa kerupuk biasa pun saya taruh mendekorasi satu set sarapan saya yang sederhana.

Lalu saya ke ruang tengah untuk sarapan.
Suapan pertama...
Hmm, rasanya familiar... rasanya gak jauh-jauh dari rasa goreng nagka yang kemaren.
mungkin otak saya masih pengen nangka itu jadi memproses rasa telor itu sebagai nangka punya.

Suapan kedua... otak saya rasanya mulai connect.
Hoekk.... jangan-jangan minyak di wajan yang tadi itu bekas ngegoreng nangka tadi malem...

O em Ji. Omaigat. dan Oh My God.

Setelah saya verifikasi ulang pada suapan ketiga, saya terlalu percaya bahwa minyak itu memanglah bekas nangka. Tapi, bukannya cari alternatif lain, saya makan aja itu telor rasa nangka. walau rasanya agak....hyugh... unik. tapi, mau gimana lagi? Kalo bikin telor lagi toh minyak yang baru juga udah saya campur pake yang --saya gak tau kalo itu-- bekas nangka.

Singkat cerita, di sekolah pas pelajaran matematika.
Perut saya sakit melilit.

augh...

Apa mungkin karena menu baru saya itu?
 

Jan 9, 2009

Musik, miris dan ironis

Kemaren, pas abis jumatan...saya ngedenger seorang anak kecil yang nyanyi


hanya kamu yang bisa membuat aku jadi tergila-gila
membuat aku jatuh cinta, karena tak ada yang lain sepertimu...
berkali kumencoba, membuat aku jadi tergila-gila
membuat aku jatuh cinta, karena tak ada yang lain sepertimu...

Heu, salah emang. balik lagi balik lagi --dasar emang anak SD--
Tapi, yang jelas yang membuat saya miris bukanlah kesalahan lirik yang dia nyanyikan
melainkan pemilihan lagunya... 
--maksudnya, anak kecil kok nyanyinya yang begituan??

Miris dan ironis emang ngeliat industri musik di Indonesia yang seringkali salah pasar.
Lagian ya, kalo diliat-liat kok tema-tema lagu di Indonesia ini semuanya tentang cinta? Belum lagi bahasa yang mereka --band dan para pencipta lagu-- gunakan adalah yang itu-itu aja.
Kata-kata seperti kesetiaan, kasih sayang, selingkuh, cinta kamu apa adanya, kenapa, apa ya... pokoknya yang kayak gitu deh...

Dalam pikiran saya terbersit, emangnya di dunia yang majemuk dan fana ini (alah) cuma ada yang namanya cinta? Dan seperti yang udah saya utarain di atas, salah pasar pula.
Seinget saya, waktu saya kecil --emang sekarang udah gede ya??-- saya nyanyi balonku, pelangi, topi saya bundar, burung kakak tua...dll belum kenal tuh yang namanya Agnes, Padi, Slank dkk.

Dan masalah tema yang diangkat oleh para pencipta lagu, pasti nggak jauh dari yang namanya cinta. Emang cinta itu apaan sih? Kalo dikaitkan dengan lagu-lagu yang mereka buat, esensi dan substansi (alah) dari definisi cinta tersebut udah ilang --walaupun nggak semua.

Kalo saya bandingin sama lagu-lagu luar negeri misalkan...
What I've done-nya LP 
(buset, ini lagu emang syarat makna banget)
atau
Reflection-nya si Christina Aguilera
(sumpah, heart melting nih...)
atau
Hero-nya si Mariah Carey
Kan beda banget tuh, sama lagu-lagu yang ada di Indonesia...
Lagu-lagu tersebut mengangkat tema tentang fenomena hidup. Lebih inspirasional dan persuasif. Lebih mengutarakn untuk membenahi diri kita, mengetahui kesalahan hidup kita dan membetulkannya.

Tapi, nggak berarti di luar pun nggak ada lagu cinta-cintanya. Lagu-lagu seperti
First love-nya Utada Hikaru
atau
My heart will go on-nya Celine Dion
--yang legendaris tea--
atau
Call me when you're sober-nya Evanescense
pun mengungkapkan tentang cinta. Tapi --lagi-lagi-- jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Kalo saya ngeliat perbendaharaan kata yang orang luar pakai labih puitis dan tidak langsung, mereka menyampaikan istilah cinta nggak secara harfiah. Beda dengan yang ada di Indonesia kan? Bahasa Indonesia yang langsung dan apa-adanya membuat kesemuanya itu seperti sama atau hanya hasil saduran semata.

Walaupun emang nggak semua lagu kayak gitu ya... masih banyak kok lagu-lagu yang pake permainan kata --kayak Peterpan, Melly dsb--tapi nggak sedikit juga lagu-lagu yang garing --kayak lagunya Tiket, Bonus, Anima-- kayaknya mereka--band-band baru-- seolah cuma menyalin teks lagu yang udah ada dan mengganti beberapa kata lalu mengubah aransemennya...
Jadi, membuat bosan. Apalagi saya. Membuat saya lebih memilih lagu kartun-kartun Jepang.
heu, heu heu

Nah, menurut kalian, siapa yang salah?
Para insan musik kah?
atau
para penikmat musik --termasuk anak-anak-- kah?